Geliat Teknologi Informasi di Universitas Nusa Cendana Kupang

December 25th, 2008

Tidak ada yang istimewa sekilas ketika melihat dan berjalan melewati gedung demi gedung yang ada di lingkungan kampus Undana (Universitas Nusa Cendana) Kupang.

Saya didatangkan dari Jogja bersama tim dibawah bendera CGNet yang digawangi oleh Sisko. Tim yang terdiri dari 5 orang, saya dan mas olis, dan tiga orang lainnya yang bertugas mendirikan tower antena untuk interkoneksi jaringan antar gedung.

Kami menyiapkan web server, setup routing dan firewall, menyiapkan interkoneksi fiber optik dan utilisasi penggunaan bandwidth yang diambil dari 2 buah VSAT. Selain itu kami juga menyiapkan sistem informasi akademik dan sistem informasi manajemen lainnya berbasis web. Dan jujur ini kali pertama saya dihadapkan dengan peralatan-peralatan yang belum pernah saya sentuh sebelumnya, misalnya Cisco 7606, SunFire X4100 dari Sun Microsystem.

Semua aktifitas Teknologi Informasi terpusat di Puskom Undana. Dimana peralatan-peralatan canggih dan mahal untuk interkoneksi dan sistem informasi berada.

Geliat Profesi , , , ,

Sebuah Tanda [1]

November 30th, 2008

(Bagian 1 dari 2 Tulisan)

Entah terbaca atau tidak, adalah sebuah tanda
Tak perlu diburu, tak perlu dikejar, ia akan selalu ada
Dalam rapat, dalam renggang
Tanda, menjadi titik balik bagi sebuah peradaban

Menurut Wikipedia, sebuah tanda adalah entitas yang menjadi petanda bagi entitas lainnya. Entitas adalah sesuatu, yang ditandai oleh sesuatu. Dalam hal ini sesuatu yang menjadi petanda disebut sebagai tanda dan sesuatu yang ditandai disebut sesuatu saja. Dalam teori tradisional tentang tanda, ada tiga pembagian tentang sesuatu:

  1. Ada sesuatu yang hanya menjadi sesuatu, bukan sebuah tanda sama sekali
  2. Ada sesuatu yang menjadi tanda bagi sesuatu yang lain
  3. Ada sesuatu yang selalu menjadi tanda

Alam semesta banyak sekali memberikan sesuatu yang menjadi tanda, sesuatu yang menjadi sesuatu itu sendiri, dan sesuatu yang selalu menjadi tanda.

Langkahkan kaki, dan temukan tanda-tanda itu. Dan kita segera melihat, keterkaitan satu sama lain, keterhubungan.

(Bersambung)

Apapun Itu , , ,

semuanya cukup, karena sudah dicukupkan [1]

November 30th, 2008

(Bagian 1 dari 2 Tulisan)

“Bro, ada info kerjaan tidak buat aku?”
“Lho, bukannya kamu itu udah kerja? Kenapa masih kurang ya, gajinya ndak cukup?”
“Bukan gitu bro, tapi ya kurang lebih seperti itu”
“Walah, kamu itu, udah bisa kerja aja harusnya bersyukur, coba liat yang lain, masih banyak yang nganggur dan susah cari kerja”
“Ya, tapi ini aku ada kebutuhan urgen yang bikin aku pusing, gimana tidak, kontrakan bulan depan naik, padahal kamu tau sendiri, harga-harga kebutuhan pokok masih tinggi, blom lagi aku kan ada ngangsur motor supra fit ku itu”
“Dan, yang aku dengar, istrimu kredit kulkas juga ya”
“Pusinglah aku bro”

Sekelumit kisah yang kalaupun tidak seratus persen sama dengan realita yang ada di masyarakat, paling tidak ada sedikit kemiripan dari sisi situasi maupun kondisi sekarang ini. Tidak sedikit pula orang-orang di kalangan rakyat miskin yang kebutuhan dasarnya sudah tak bisa dipenuhi.

Menilik sepenggal kisah di atas, yang disadur dari sebuah kehidupan nyata, dan dikombinasikan dengan kondisi dan tekanan ekonomi sekarang ini menghimpit banyak lapisan masyarakat. Yang sudah bekerja saja mengeluh, apalagi yang masih nganggur, atau mempunyai pendapatan tidak tetap, yang “ora iso dijagakke”. Menurut logika, tentunya akan sangat kembang kempislah orang-orang itu.

Tapi apapun logika berpikir kita, berangkat dari sudut pandang apapun, ditelaah, diuraikan, dengan metode apapun, hanya satu yang jelas dan pasti, bahwa semua itu cukup karena sudah dicukupkan.

(Bersambung)

Apapun Itu